Tokoh Kewirausahaan Sosial di pinggiran Kota Depok
Cari Berita

Advertisement

Tokoh Kewirausahaan Sosial di pinggiran Kota Depok

Kamis, 31 Oktober 2019






Istilah social preneur atau kewirausahaan sosial mungkin terdengar asing bagi sebagian masyarakat, istilah ini mulai berkembang seiring ada banyaknya pemasalahan kemiskinan, kesehatan, kesejahteraan, pendidikan dan lain-lain.
Seseorang memulai bisnis biasanya hanya ingin mendapatkan profit saja, siapapun tentu ingin menjadi wirausahawan sukses. Namun berbeda dengan social entrepreneur yang tidak hanya mencari keuntungan (profit) saja tetapi juga membatu permasalahan dan merubah tatanan untuk menyelesaikan masalah tersebut di masyarakat.

Fahmi Fazri adalah seorang pemuda yang tinggal di kampung curug kecamatan BojongSari, kota Depok. Ia adalah owner dari Fams sablon Fam’s ini dimodali oleh Fahmi sendiri, ada investor juga tetapi sifatnya investor lepas artinya   investor ini tidak ikut campur dalam operasional, hanya memberi modal saja.
Model bisnis yang dijalani adalah bisnis UMKM  yang akan mendaftarkan HAKI karena merk yang dipakai ini adalah usulan dari Bapak Wali Kota Depok. Produknya juga sering dipakai oleh masyarakat Depok, memang bisnis ini terbilang bisnis kecil namun ia berusaha mengembangkan market nya lebih luas. Sekarang masih berproses untuk menjadi CV dan corporation.
Lalu Fahmi mengembangkan bisnisnya dengan lebih luas lagi, yaitu dengan memasukan dan memasarkan Fam’S Sablon ini ke sanggar-sanggar budaya, terutama perkumpulan sanggar Depok. Berawal dari mulut satu kemulut lainnya, akhirnya Fam’s Sablon dapat diterima untuk mengerjakan tender-tender yang ada di sanggar kebudayaan Depok ini, seperti kaos-kaos yang menggambarkan kebiasaan orang Depok, lalu juga membuat kaos-kaos komunitas lainnya.
Dalam menjalankan bisnis sablon, bukanlah hal yang mudah, sebab memerlukan sebuah sumber daya manusia yang ahli serta berpengalaman, sebab itu merupakan pekerja keterampilan butuh ketelitian dan ketekunan. Oleh karena itu seiring berjalannya waktu, bisnis fam’s ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak sebab bertambahnya permintaan terhadap produksi, sehingga hal itu membuat Fam’s Sablon ini tidak bisa sendiri dalam melakukan produksinya. Usaha sablon Fahmi ini termasuk kewirausahaan social, karena ia memberdayakan masyarakat sekitar dan para santri. Karena salah satu tujuan bisnis yang ia jalani sekarang memiliki goals untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan terutama untuk masyarakat dilingkungan sekitar, karena dilingkungan sekitar yang ia rasakan masih ada lulusan sekolah yang belum bekerja (pengangguran).
Sablon fem’s ini dimodali oleh Fahmi sendiri, ada investor juga tetapi sifatnya investor lepas artinya investor ini tidak ikut campur dalam operasional, hanya memberi modal saja.
Model bisnis yang dijalani adalah bisnis UMKM  yang akan mendaftarkan HAKI karena merk yang dipakai ini adalah usulan dari Bapak Wali Kota Depok. Produknya juga sering dipakai oleh masyarakat Depok, memang bisnis ini terbilang bisnis kecil namun ia berusaha mengembangkan market nya lebih luas. Sekarang masih berproses untuk menjadi CV dan corporation.
Dari keempat nilai-nilai dari kewirausahaan social ini hampir semua sudah dijalani. Untuk socialpreneur ini ia tidak mau merekrut tenaga ahli karena jika ia merekrut tenaga ahli bisnis yang dijalani memang bisa berjalan cepat. Namun ia ingin merekrut orang-orang yg (amatir) tetapi mau belajar itu lebih baik. Ia lebih senang jika orang yang ia beri ruang untuk belajar sablon ini nantinya bisa membuka usaha sendiri. Fahmi ini ingin merubah paradigma bahwa bekerja itu dari jam 08.00-16.00 dan mendapatkan gaji di akhir atau awal bulan. Ia berkata bahwa nantinya kecamatan bojongsari ini akan di adakan pembangunan untuk dijadikan margonda 2, ia tidak ingin apabila nanti margonda 2 sudah berdiri masyarakat asli  hanya menjadi office boy, security, karyawan dll. Bukan tidak mungkin jika masyarakat asli berkecimpung di dunia bisnis saat margonda 2 sudah berdiri.
Saat ini Fam’s Sablon sudah memiliki omset puluhan juta dengan beserta aset-aset yang dimilikinya.