Musik Kontroversi Musik dalam Pandangan Islam
Cari Berita

Advertisement

Musik Kontroversi Musik dalam Pandangan Islam

Kamis, 29 Agustus 2019







                Senin Musik (Instrumental Art) ialah bidang seni yang berhubungan dengan alat alat musik dan irama yang keluar dari alat musik tersebut. Yang menjadikan musik dapat disatukan dengan seni instrumental atau seni vokal. Seni instrumentalia adalah seni suara yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik, sedangkan seni vokal adalah melagukan syair yang hanya dinyanyikan dengan perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik.
Pada dasarnya orang Arab berbakat musik sehingga seni suara telah menjadi suatu keharusan bagi mereka semenjak jaman jahiliyah. Di Hijaz kita dapati orang menggunakan musik mensural yang mereka namakan dengan iqa (irama yang berasal dari semacam gendang, berbentuk rithm). Mereka menggunakan berbagai berbagai instrumen (alat musik), antara lain seruling, rebana, gambus, tambur, dan lain-lain.
                Setelah bangsa Arab masuk Islam, bakat musiknya berkembang dengan mendapat jiwa dan semangat baru. Pada masa Rasulullah, ketika Hijaz menjadi pusat politik, perkembangan musik tidak menjadi berkurang. Dalam buku-buku hadits terdapat nash-nash yang membolehkan seseorang menyanyi, menari dan memainkan alat-alat musik. Tetapi kebolehan itu disebutkan pada nash-nash tersebut hanya ada pada acara pesta-pesat perkawinan, khitanan, dan ketika menyambut tamu yang baru datang atau memuji-muji orang yang mati syahid dalam peperangan, atau pula menyambut kedatangan hari raya dan yang sejenisnya.
                “Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Di sampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendedangkan nyanyian (tentang hari) Bu’ats (di dalam riwayat Muslim ditambah dengan menggunakan rebana). (Kulihat) Rasulullah Saw berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepada saya. Katanya, “Di tempat Nabi ada seruling setan?” Mendengar seruan itu, Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya berkata, “Biarkanlah keduanya, hai Abu Bakar!” Tatkala Abu Bakar memperhatikan lagi maka saya suruh kedua budak perempuan itu ke luar. Waktu itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan sedang (menari dengan) memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya (di dalam masjid)...”
Lalu bagaimanakah para Ulama menilai? Dalam kitab “Al Fiqh Ala Al Mazahibi Al Arba’a” karyanya Abdurrahman Al Jaziri, mengatakan :
1.       Ulama-ulama Syafi’iyah seperti yang diterangkan oleh Al Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin. Beliau berkata nash-nash Syara’ telah menunjukkan bahwa menyanyi, menari, memukul rebana sambil bermain dengan perisai dan senjata-senjata perang pada hari raya adalah mubah (boleh) sebab hari seperti itu adalah hari untuk bergembira. Oleh karena itu hari bergembira dikiaskan untuk hari-hari lain seperti khitanan, dan semua hari kegembiraan yang memang dibolehkan Syara’.
2.       Al Ghazali mengutip perkataan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya tidak ada seorangpun dari para ulama Hijaz yang benci mendengarkan nyanyian suara alat-alat musik, kecuali bila di dalamnya mengandung hal-hal yang tidak baik. Maksud ucapan tersebut adalah bahwa macam-macam nyanyian tersebut tidak lain nyanyian yang bercampur dengan hal-hal yang telah dilarang oleh Syara’
3.       Para ulama Hanafiyah mengatakan bahwa nyanyian yang diharamkan itu adalah nyanyian yang mengandung kata-kata yang tidak baik (tidak sopan), seperti menyebutkan sifat-sifat jejaka (lelaki bujang dan perempuan  dara), atau sifat-sifat wanita yang masih hidup (menjurus). Adapun nyanyian yang memuji keindahan bunga, air terjun, gunung dan pemandangan alam lainnya maka tidak larangan sama sekali. Memang tidak ada orang-orang yang mengutip pendapat dari pendapat imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa dia benci terhadap nyanyian dan tidak suka mendengarkannya. Baginya orang-orang yang mendengarkan nyanyian telah melakukan perbuatan dosa. Di sini harus dipahami bahwa nyanyian yang dimaksud imam Hanafi adalah nyanyian yang bercampur dengan hal-hal yang melanggar Syara’.
4.       Para ulama Malikiyah mengatakan bahwa alat-alat permainan yang digunakan untuk memeriahkan pesta pernikahan hukumnya boleh. Alat musik khusus untuk momen seperti itu misalnya gendang, rebana yang tidak memakai genta, seruling dan terompet.
5.       Para ulama Hambaliyah mengatakan bahwa tidak boleh menggunakan alat-alat musik seperti gambus, seruling, gendang, rebana dan yang serupa dengannya. Adapun tentang nyanyian atau lagu, maka hukumnya boleh. Bahkan sunnah melagukannya ketika membacakan ayat-ayat Al-Qur’an asal tidak sampai mengubah hukum bacaannya.

A.      Golongan yang mengharamkan menyanyi dan musik
        Imam Ibnu Al Jauzi, Imam Qurthubi dan Imam Asy Syaukani telah mencantumkan berbagai dalil tentang haramnya nyanyian dan penggunaan alat-alat musik, antara lain:
1.       Firman Allah Swt :
“Dan diantara manusia dalam (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahualhadits) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu tidak memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman:06)
Sebagian sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud  dan  tabi’in seperti Mujahid, Hasan Al Basri, Ikrimah, Said bin Zubair, Qatadah dan Ibrahim An Nakha’i menafsirkan (menyewakan) biduanita. Begitu juga pendapat sebagian ahli tafsir, antara lain Imam Ibnu Katsir yang berkata, “orang-orang celaka itu telah berpaling dari mendengarkan kalamullah dan mengambil manfaatnya. Mereka cenderung mendengarkan suara seruling nyanyian dengan irama alat-alat musik yang melenakkan.”
2.       Hadits Bukhori yang diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari, “Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata, “Datanglah kepada kami esok hari.” Pada malam hari kemudian Allah membinasakan mereka, dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malamt tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”

B.      Golongan yang membolehkan menyanyi dan musik

Imam Malik, Imam Ja’far, Imam Al Ghazali dan Imam Abu Daud Azh Zhahiri telah mencamtumkan bergbagai dalil tentang bolehnya nyanyian dan menggunakan alat-alat musik, alasan-alasan mereka antara lain:

1.       Firman Allah Swt :
“...Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya bunyi suara adalah keledai.” (Luqman:19)
Imam Al Ghazali mengambil pengertian ayat ini dari Mafhum Muklalafah. Allah Swt memuji suara yang baik. Dengan demikian dibolehkan mendengarkan nyanyian yang baik.
2.       Hadits Bukhori, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain dari Rubayyi’ binti Mu’awwiz “Afra.
Rubayyi’ berkata bahwa Rasulullah Saw datang ke rumah pada pesta pernikahannya. Lalu Nabi Saw duduk di atas tikar. Tak lama kemudian beberapa orang dari Jariyah (wanita budak)nya segera memukul rebana sambil memuji-muji (dengan menyenandungkan) untuk orang tuanya yang syahid di medan perang badar. Tiba-tiba dari salah seorang Jariyah itu berkata, “Diantara kita ini ada Nabi Saw yang sangat mengetahui yang akan terjadi pada esok hari.” Tetapi Rasulullah Saw segera bersabda, “Tinggalkanlah omongan itu teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.”
                Jadi nyanyian yang bersifat vokal (suara manusia tanpa instrumen musik) tidak diperselisihkan oleh para fuqaha. Mereka mengatakan bahwa nyanyian semacam ini halal atau dibolehkan. Sebagaimana yang dikutip oleh Imam An Nahawi dalam kitabnya Al Umdah berkata, “Telah diriwayatkan tentang halalnya nyanyian dan mendengarkannya dari sekelompok sahabat dan tabi’in, diantaranya adalah Imam yang empat, Ibnu ‘Uyainah, dan Jumhur Syafi’iyah.
                Pada zaman sekarang banyak musik yang mempengaruhi atau merusak generasi muda muslim. Maka, tindakan-tindakan yang dapat kita lakukan untuk mencegah rusaknya generasi muda muslim terhadap musik, yaitu:
1.       Menghindari setiap nyanyian atau rekaman yang mengundang orang untuk melakukan maksiat, seperti mengajak orang untuk minum arak, bergaul bebas, berpacaran, bermain cinta atau bunuh diri karena putus cinta.
2.       Menghindari menonton penyanyi wanita yang tampil di Televisi, Film, Panggung umum atau Studio. Baik wanita tersebut menggunakan pakaian yang seronok atau bahkan pakaian Syar’i.
3.       Hanya mendengarkan lagu-lagu atau rekaman yang mengandung nilai-nilai keislaman dan sesuai dengan Akidah dan Akhlak Islam yang boleh beredar di negeri-negeri Islam.
Demikianlah ulasan yang sudah saya sampaikan. Huwallahu’alam bishowwaf
Ditulis oleh Gilang Mustika, Mahasiswi STEI SEBI]