Pentingnya Mengenalkan Ekonomi Syariah pada Generasi Milenial
Cari Berita

Advertisement

Pentingnya Mengenalkan Ekonomi Syariah pada Generasi Milenial

Rabu, 28 Agustus 2019




Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.
Yuswohady dalam bukunya #GenM=Generasi Moeslim juga menjelaskan Millennial generation atau generasi Y merupakan mereka yang lahir di awal tahun 1980-an sampai pertengahan tahun 1990-an. Generasi yang tumbuh besar saat era digital mulai berkembang.
Generasi millennial saat ini menyita perhatian semua kalangan. Generasi millennial sering menjadi perbincangan dalam segala aspek, baik dari segi pendidikan, norma-norma, kesadaran sosial, kondisi mental, termasuk ketergantungan terhadap penggunaan teknologi. Hal ini dikarenakan perubahan cara hidup yang mencolok dengan generasi sebelumnya. Perubahan yang sangat dominan ini menyebabkan lahirnya sikap, idiologi, dan paham yang sangat berbeda dengan generasi-generasi terdahulu.
Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.
Tren tersebut sudah terbukti disepanjang 2016 melalui beberapa peristiwa penting, seperti aksi teror bom. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa.
Data www.teknopreneur menyebutkan, data pengguna internet di Indonesia dalam surveynya 2017 mencapai 143,26 juta jiwa atau 54,68 persen dari total 262 juta orang. Dilihat dari peringkatnya di Asia, Indonesia adalah urutan ke empat setelah Cina, India, dan Jepang. Ini sepertinya data agak lama yang dirilis oleh www.katadata.co.id. Apabila dilihat dari prilaku pengguna internet di Indonesia, yang paling banyak media sosial yang digunakan adalah facebook mencapai 71,6 juta orang (54%). Instagram 19,9 juta orang (15%), youtube 14,5 juta orang (11%), google 7,9 juta orang (6%), tweeter 7,2 juta orang (5,5%), dan linkedin sebanyak 796 ribu (0,6%).
Sejatinya benar bahwa generasi milenial menjadi tantangan tersendiri dalam dakwah. Sebab adanya kemajuan teknologi, pada era ini mengakses internet menjadi hal yang paling rutin dilakukan. Para Ulama sendiri juga sangat faham bahwa dunia ini tidak pernah tidak berubah, sains dan teknologi pun berkembang terus. Karena yang tetap adalah perubahan itu sendiri.
Karena itu, apa yang harus disikapi dan lakukan oleh para Ulama, agar generasi millenial yang lahir setelah tahun 1980-an? Atau sebenarnya istilah “millenium” itu adalah hitungan satu masa periode seribu tahun, itu dihitung sebagai millenium. Jika dihitung tahun masehi sekarang 2018, berarti kita ini berada di millenium ke tiga masih agak awal. Namun konotasi millenial sekarang ini, identifikasi utamanya adalah perkembangan dan maraknya teknologi digital yang serba online, maka seolah-olah ketika kita mengatakan generasi millenial, adalah identik dengan generasi gadget, smartphone, online, dunia maya, yang sarat dengan media sosial.
Dunia maya sebenarnya dapat diartikan positif dan dapat pula negatif. Tergantung dalam penggunaannya. Kecanggihan internet sebagai sarana untuk kemudahan berbagi informasi dengan siapapun, membuat kita dapat bertukar cerita, pengalaman, atau bertukar pemikiran  dengan siapa saja di media social misalnya, yang mana jika kita tidak memiliki kekuatan iman sebagai pondasi maka akan mudah menerima pemahaman pemahaman yang menyimpang dari ajaran islam.
Selain itu, dalam konteks substansi atau konten media sosial dan isu-isu keagamaan, meminjam pendapat Gus Mus, banyak dikuasai oleh orang-orang yang tidak faham agama secara  benar dan mendalam, tetapi menguasai IT (Ilmu Teknologi). Maka mereka sering menawarkan berbagai macam informasi keagamaan menurut versi mereka, dan diduga banyak informasi yang mengajarkan teologi kekerasan, menghakimi, bahkan tidak jarang kemudian dengan mudah mengafirkan orang atau kelompok lain.
Pemahaman-pemahaman itulah yang akhirnya mempengaruhi pola pikir kebanyakan anak muda milenial saat ini. Dengan dalih hidup pada era ini harus memiliki pemikiran yang terbuka, harus bertoleransi, harus menghormati kebebasan karena merupakan hak manusia, tapi justru malah dirinya sendiri yang terbawa arus.
Adapun hal ini juga mempengaruhi perkembangan dakwah melalui pengetahuan tentang Ekonomi Syariah pada Generasi Milenial. Ekonomi syariah merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang membantu manusia dalam mewujudkan kesejahteraannya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan berdasarkan Syariah.
Sekarang ini perekonomian syariah di Indonesia mulai berkembang, masyarakat Indonesia mulai banyak yang melirik bahkan sudah mengerjakan berbagai macam kegiatan ekonomi syariah dalam kehidupannya sehari-hari. Sebenarnya kita sebagai umat islam sejak lahir sudah gak asing lagi dengan yang namanya ekonomi syariah, contohnya seperti zakat yang merupakan salah satu rukun islam, kemudian wakaf, dan lain-lain.
Pada era milenial ini perkembangan ekonomi syariah pun sangat mudah di dapatkan. Peluang ekonomi syariah yang ada di Indonesia pun sangat luas terlebih penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim. Pertumbuhannya yang cukup pesat dibuktikan oleh Islamic Finance Development Report 2018 dari Thomson Reuters menunjukkan Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara dengan pasar keuangan syariah yang tumbuh pesat di dunia. Indonesia berada di peringkat ke-10 dari 131 negara dalam Islamic Finance Development Index 2018 dengan skor 50. Selain itu Indonesia yang merupakan sebagian besar penduduknya penganut ajaran islam menjadikan jumlah konsumen muslim mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia, belum lagi selama 5 tahun terakhir pasar muslim di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar.
Generasi Millennialpun menentukan wajah Indonesia kedepannya. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ada 63 juta millennial, atau penduduk usia 20-35 tahun. Mereka ada di usia produktif. Untuk menyesuaikan dengan keadaan sekarang yang sudah serba canggih, dan mengimbangi kemajuan teknologi informasi. Pemerintah berharap generasi muda kita dapat memberikan warna tersendiri dalam perkembangan ekonomi Syariah di Indonesia. Karena generasi ini adalah generasi yang reaktif terhadap perubahan situasional, edukasi yang komprehensif seperti lokalatih ini sangat diperlukan.
70,4 persen millennial mengakses media digital untuk mengetahui berita terkini. Kemudahan akses, multi-tasking, dan kecepatan menjadi alasan utama memilih media digital. Akan sayang sekali jika peluang yang ada didepan mata tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka solusinya untuk dapat menghadapi kaum milenial saat ini kuncinya adalah memahami perilaku millennial dan mendorong mereka agar menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia.
Jadikan juga hal hal tersebut sebagai peluang untuk kita mengajak mereka. Kita dapat mengajak generasi milenial untuk menciptakan produk-produk berdasarkan prinsip syariah. Yang mana dengan banyaknya produk syariah yang muncul dan berkembang dapat meminimalisir penggunaan system konvensional.
Dalam mengajak generasi Milenial, kita juga dapat merubah tantangan yang ada sebagai peluang. Sangat penting juga untuk memahami perilaku objek dakwah kita, sehingga kita nanti dapat mengambil hatinya dan mudah dalam mengajak. Kita dapat belajar cara berkomunikasi yang baik melalui buku  ‘Bagaimana Menyentuh Hati’ karya Abbas As-Siisiy. Banyak cara untuk mengambil hati objek dakwah kita, seperti mengenal terlebih dahulu si objek dengan cara yang unik, memahami sifat dan karakteristik nya (objek dakwah), agar kita tidak salah dalam mengajaknya. Jika sudah mengenal objek dakwah kita dengan baik, barulah kita mengajaknya untuk sekedar mengobrol seputar islam lalu mengajaknya kearah kebenaran.
Kita juga harus memiliki dua sifat yaitu cerdas dan bersih jika ingin dakwah kita berhasil. Cerdas disini maksudnya adalah cerdas dalam berfikir, dimana ia dapat memandang segala sesuatu dengan proporsional, dan yang dimaksud bersih adalah bersih hatinya. Tidak hanya itu, penampilan da’i pun berpengaruh pada dakwahnya.


- Khansa Amalia -
STEI Sebi