Krisis Seperempat Abad, Apa itu?
Cari Berita

Advertisement

Krisis Seperempat Abad, Apa itu?

Sabtu, 24 Agustus 2019


Saat berada di usia SD, SMP, maupun SMA, rasanya sangat menyenangkan, karena semua yang dijalani sudah ditentukan oleh lingkungan. Namun setelah lulus dari SMA, ada yang merasa bingung akankah melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau bekerja? Jika lanjut kuliah, jurusan apa yang hendak dipilih? Apakah menempuh jalur reguler atau beasiswa? Atau ketika hati memilih untuk bekerja, semua tidak selesai di situ. Kira-kira, pekerjaan apa yang akan dilakukan? Apakah skill sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan perusahaan? Bagaimana dengan gajinya, apakah cukup memenuhi finansial tanpa lagi meminta pada orang tua?

Di saat seperti itulah seseorang mengalami masa krisis, di mana ia memiliki pilihan yang harus diambil dan menjadi keputusan penting dalam hidupnya. Masa krisis tersebut dikenal dengan istilah quarter-life crisis; campuran dari kebingungan identitas, kehampaan eksitensial, kehilangan tujuan, dan kesulitan menemukan makna hidup. Biasanya, orang-orang yang berusia 20an yang terkena quarter-life crisis. Situasi yang menjadikan usia tersebut ‘krisis’, di antaranya:
1. Lulus kuliah
2. Lepas dari orang tua
3. Mulai menghadapi kehidupan yang sebenarnya
4. Menghadapi tugas-tugas seperti bekerja dan membangun keluarga
5. Menghadapi tuntutan
6. Menghadapi berbagai pilihan

Pada usia 20an, seseorang baru melihat dan merasakan kenyataan hidup. Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu quarter-life crisis, yaitu:

 Kekeliruan pengasuhan orang tua pada masa bayi hingga remaja

 Ada tugas perkembangan yang belum selesai pada fase usia sebelumnya
Dua poin di atas saling berhubungan. Memang, semua permasalahan seringkali disebabkan oleh faktor keluarga, utamanya bagaimana sang anak tumbuh berkembang dengan asuhan orang tuanya. Misalnya ada seorang ibu yang memiliki anak perempuan berusia 4 tahun. Usia tersebut sangat baik untuk mengembangkan kemandirian pada sang anak. Maka ibu harus pandai memanfaatkan peluang untuk memberi kesempatan anaknya belajar mandiri. Karena jika gagal, anak tersebut kemungkinan akan tumbuh menjadi anak yang pemalu dan ragu-ragu. Akibatnya, di usia dewasa nanti, sang anak akan mudah merendahkan dirinya dengan mengatakan bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu dengan baik.

 Perkembangan teknologi
Zaman sekarang, teknologi menjadi bagian primer dalam kehidupan. Bahkan, apa yang sedang menjadi tren di sosial media adalah kiblat gaya hidup khususnya untuk kaum milenial. Segala yang sedang populer pasti akan diikuti. Alasannya agar terlihat keren hingga dapay diterima di circle pertemanan tertentu.

Lebih parahnya lagi, jika sudah membanding-bandingkan hidup dengan orang lain. Kenapa tidak bisa seperti dia, tidak bisa ini, tidak punya itu. Umurnya sama, tapi kok begini-begini aja hidupku? Jika tidak ditangani, bisa mengantar kepada krisis. Jadi hilang arah, makna, kepercayaan diri, sampai bingung mau melakukan apa. Ini fenomena global, semua orang di setiap negara pernah mengalaminya. Orang-orang yang terkena quarter-life crisis biasanya tidak percaya diri dan suka merasa lelah secara mental.

Lalu, bahayakah quarter-life crisis?

Secara prinsip, quarter-life crisis jika tidak membuat kita merugikan diri dan orang lain, masih dianggap wajar. Yang namanya beranjak dewasa, baru merasakan hidup, banyak tuntutan, stres dan merasa tegang, masih dianggap wajar. Tapi kalau sudah menjurus kepada depresi, penuruan kesadaran, itu berbahaya.

Bagaimana cara mengatasi quarter-life crisis?
Kehampaan eksistensial telah menjadi fenomena sejak abad 20. Penyebabnya: Manusia kehilangan naluri yang mengatakan apa yang harus dia lakukan. Manusia seringkali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Konformisme; ikut-ikutan yang dilakukan orang lain. - Viktor E. Frankl

Hidup terasa hampa, terombang-ambing bagai di samudera lepas tanpa sandaran dan pelabuhan, bingung mau berlayar ke mana dan mencari apa, hendak pulang tapi tak tau arahnya. Kenapa? Mungkin kita kehilangan makna hidup. Lupa bahwa kita diciptakan untuk sebuah misi yang tidak bisa digantikan orang lain. Jika kita tau makna dan alasan kita hidup, masalah dan tantangan seberat apapun akan kita hadapi, begitulah kata Frederich Nietzsche.

Cara memandang quarter-life crisis
 Tambah Beban
Barangkali kita bukan butuh kemudahan, tetapi butuh tambahan tanggung jawab. Hidup kita butuh tantangan baru. Stres bukan hanya disebabkan karena ‘kelebihan muatan’, tetapi juga karena ‘kekurangan muatan’. Barengi dengan penambahan skill dan wawasan. Jika seorang arsitek ingin memperkuat bangunan melengkung yang sudah tua, ia akan menambah beban di atas bangunan tersebut. Karena dengan begitu bagian-bagian bangunan akan terhubung secara lebih kuat.

Jadi, kalau kita ingin menguatkan diri iita, kita tidak menghindari beban, tapi justru menambahnya. Konsepnya sesuai: Allah membebani kita sesuai kapasitas. Jadi, mari kita melihat beban sebagai penguat dan alasan bermakna dalam hidup kita. Tentu saja beban yang dimaksud adalah beban yang sesuai bidang/kemampuan kita. Jika tidak sesuai? Berarti kita harus menambah kapasitas dengan belajar skill dan wawasan baru. Beban tidak selalu berarti buruk, jadi mengapa berdoa supaya dihindarkan dari beban? Mengapa tidak berdoa agar ditambah kapasitas dan kemampuan untuk menanggung beban?

 Hidupkan Kesadaran Soal Tanggung Jawab
Hidup kita bukan soal mencapai sesuatu untuk diri kita saja, pikirkan tanggung jawab pada keluarga, masyarakat dan Allah. Kita perlu menambah beban karena tanggung jawab kita sebenarnya sanga besar sebagai manusia, terutama tanggung jawab pada Allah.

 Jangan Ambil Peran Juri
Lakukan saja usaha dan amalmu semaksimal mungkin. Jika kita fokus pada yang harus dikerjakan, kita tidak akan sempat menilai bahwa hidup orang lain lebih enak. Karena kita menikmati hidup kita sendiri.

 Perkuat Relasi
Sebuah penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa yang membuat seseorang bahagia bukan harta, pekerjaan, atau popularitas, melainkan relasi yang hangat dan mendukung. Meskipun sudah beranjak dewasa hubungan dengan keluarga tetap menjadi penentu penting. Harta yang paling berharga adalah keluarga.

 Menemukan Makna
Pada akhirnya, quarter-life crisis adalah soal pergulatan batin untuk menemukan makna hidup. yakini bahwa kamu ada di dunia untuk melakukan peran yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Kamu dan semua manusia punya misi khusus yang tak melulu sama. Makna sebaiknya dibuat menjadi dua: makna besar dan makna kecil. Makna kecil yang lebih spesifik sedangkan makna besar yang menaungi semua makna kecil.
Makna besar: menjadi hamba bertaqwa.
Makna kecil: 1. Sebagai pecinta kucing: aku ada untuk membantu kucing-kucing hidup lebih layak 2. Sebagai ibu rumah tangga: aku ada untuk menjadi supporter utama suami dan anak-anak.

Quarter-life crisis adalah bukti bahwa kita manusia dan, hei, kita masih hidup.

Quarter-life crisis adalah bukti bahwa hidup saja tidak cukup, manusia mesti menjalani hidup
yang bermakna.

Intisari dari Bincang Teh Jasmine 4.0: Quarter Life Crisis (Bingung Dalam Arah #AyoBerbenah)
(Nabilah Maulida, STEI SEBI)