Ketika Pendidikan Butuh Asupan
Cari Berita

Advertisement

Ketika Pendidikan Butuh Asupan

Rabu, 28 Agustus 2019





Hey gaes, sekarang kamu nggak bakal punya alasan lagi kalau sampai prestasi di sekolah anjlok bahkan mandet di tempat. Ini lantaran sudah menjamurnya bimbingan belajar di berbagai tempat dan kerennya lagi, ada banyak aplikasi yang bisa bantu kamu belajar di manapun dan kapanpun miril bimbel pada umunya.
Tapi. Kok kaya ada yang salah ya?
Apa ya?
Apa kalian berpikiran sama seperti saya?
Semakin menjamurnya Bimbel dan aplikasinya, membuat keresahan dalam hati saya.
Ada apa sebenarnya sampai-sampai sebegitu mendongkraknya bimbel untuk prestasi sekolah siswa?
Apakah sekolah sendiri tidak mampu mendongkrak prestasi siswanya?
Coba bayangkan, jamannya saya yang lahir di tahun 90-an, tidak pernah ada bimble di ruko, bahkan untuk aplikasinyapun rasanya tidak mungkin, sebab tempo dulu benar-benar minim teknologi, sekalipun ada tidak murah harga yang ditawarkan. Meski ada di peradaban yang jauh dari pesatnya kemajuan teknologi, semua kawan sekelas bisa dikatakan berprestasi.
Bagaimana bisa?
Dahulu yang saya alami, pendidikan begitu sangat mengasikan, bahkan untuk berdiam di kelas dengan waktu yang tidak sebentar, yang namanya jenuh tidak pernah ada. Saya tidak tau  apa yang dimiliki guru tempo dulu, tapi jelas mereka memiliki kemampuan sebagai tenaga pengajar yang keren abis. Sekarang banyak bertebaran bimbel dimana-mana, kalau tidak mau repot berpergian cukup dengan kuota internet dan membayar lewat transfer bank, kamu sudah bisa pula dapatkan aplikasi dari ponsel cerdas layaknya bimbel.
Kok bimbel rame banget yah?
Ini yang membuat saya lama berpikir, tapi beruntung seorang lelaki bernama Prof. Dendy Sugiono, Dosen Universitas Indpraprasta PGRI mengatakn.
"banyaknya bimbel berarti ada kesalahan dalam sistem pendidikan, sampai-sampai mereka (siswa) membutuhkan pendidikan tambahan diluar pendidikan yang didapat sekolah". Nah jawaban ini yang membuat saya terlepas dari tanya berkepanjangan. Akhirnya saya paham jika menjamurnya bimbel lantaran sistem pendidikan yang salah, dan dalam kesalahan ini orang tua siswa harus rela merogoh kocek yang jumlahnya hampir sama dengan biaya sekolahnya. Sudah membayar biaya sekolah plus membayar pula biaya Bimbel, lebih ekstrimnya bisa pula keluar biaya Les. Lumayan banyak ya, lalu apa yang dipelajari di sekolah, sampai-sampai siswa membutuhkan asupan pendidikan tambahan di bimbel. Sebenarnya yang diajari di bimbel sama saja dengan apa yang diajarkan di sekolah, materinya pun sama. Jadi kenapa mesti ikut ke bimbel?
Prof. Dendy Sugono, menemukan permasalahan   sistem pendidikan yang mengacu pada;
1. Guru yang tidak kompeten.
Guru adalah sumber pengetahuan, jadi sangat berpengaruh jika dalam praktiknya ketidaktahuan atau bahkan belum siapnya menjadi seorang Guru yang kemudian dipaksakan terjun dalam karir tersebut, akan sangat besar kemungkinan hasilkan kesenjangan pengetahuan bagi siswa. Pengetahuan yang tidak sempurna diserap, atau ngerinya lagi kesalahan pemahaman lantaran kurang pengetahuan yang dimiliki guru tersebut.
2. Kurangnya Sarana dan Prasarana.
Selain guru yang tidak kompeten, ada pula sarana dan prasarana yang sangat minim di penuhi lembaga pendidikan yakni sekolah, salah satunya yang sangat mencolok, kurangnya alat peraga yang dimiliki sekolah, atau alat bantu untuk mempermudah siswa memahami pembelajaran yang mereka dapatkan. Beruntung jika di sekolah, siswa sudah dimanjakan dengan infokus yang begitu sangat jelas memberikan gambaran materi, tapi jika tidak ada, ada spidol hitam tidak permanen akan memperlihatkan dengan jelas tulisan dari materi tersebut, atau lebih ke bawah ada kapur putih yang digunakan pada jaman sekolah dasar tahun 90-an dahulu.
3. Lingkungan Belajar Tidak Kondusif.
Lingkungan belajar juga sangat berpengaruh, salah satu yang sangat berpengaruh adalah kebisingan. Kebisingan akan sangat mudah membawa kesulitan bagi siswa dalam memahami materi pembelajaran, oleh sebab itu sangat diharapkan keadaan kondusif hadir di kelas.
Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang bisa berdampak pada kesalahan sistem pendidikan, tapi ketiga ini mungkinan sudah mewakili lebih dari cukup. Kalau mau lebih jauh, cobalah tengok berapa kali Kurikulum Pendidikan berubah-ubah. Kenapa harus berubah-ubah? Tentu tujuanya untuk memberi kesempurnaan agar tidak terjadi lagi kesalahan pendidikan, tapi apakah kurikulum akan berubah lagi?
Kalau pertanyaan ini, silahkan tanyakan ke Gurunya langsung, saya hanya tersenyum manis tanpa sedikitpun bermaksud merendahkan keberagaman pemikiran hingga kurikulum terus alami perubahan.
Nah.. Apa dari sini anda paham tentang pendidikan. Seandainya saja pendidikan di sekolah keren, siswa bisa sangat memahami dan mengerti, berprestasi tanpa harus dibantu lembaga pendidikan yang lainnya pasti lahir, kemudian orang tua siswa tidak perlu mengeluarkan uangnya kembali untuk membayar bimbel anaknya, tapi jika pendidikan tidak runyam seperti ini, berarti lapangan kerja yang dibangun dari lembaga pendidikan yakni bimbel tersendat? Saya malah tambah bingung lagi. Tapi tenang kok, tidak semua sekolah menghasilkan kesalahan sistem pendidikan, ada banyak juga sekolah yang hasilkan alumni denga prestasi keren tanpa ada campur tangan bimbel, ya meskipun biayanya bikin geleng-geleng kepala, wajar lah ya semakin mahal kemungkinan semakin berkualitas pula sekolah tersebut, tapi bisa juga tidak. Ya, semoga saja prestasi yang keren juga berimbas pada masa depan yang keren, misalnya mudah mencari pekerjaan dan lain sebagainya.
Khusnul Khotimah